Bismillahirrahmanirrahiim, puji syukur kehadirat Allah azza wa jalla, shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Muhammad Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, sahabatnya, para tabi’in, tabi’it tabi’in, dan ummatnya yang selalu berpegang pada Al-Quran dan sunnah rasulNya.
Manusia, kini menjalani kehidupan dunia, dan tentu saja akan menjalani kehidupan di akhirat. Jika kita saat ini mengandalkan harta dan kedudukan, maka sesungguhnya hanya amalan kitalah yang dapat dijadikan bekal di akhirat. Di sana nanti setiap manusia akan diberi buku catatan amalnya. Tidak ada sedikitpun yang terlewat; siapa yang mengerjakan kebaikan walaupun seberat biji gandum, ia akan melihatnya, demikian juga yang melakukan keburukan, sekalipun seberat biji gandum tentu ia akan menyaksikan amalannya.
Allah berfirman dalam surat 36:12 “Sesungguhnya Kami akan menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan semuanya itu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata.”
Orang yang banyak berbuat kebaikan, ibadahnya berkualitas, mengamalkan As-Sunnah, bekerja keras mencari mardhatillah, menjauhi maksiat, serta tidak lupa berdzikir dan berdo’a, ia akan diberi buku catatan dari sebelah kanannya. Ia akan dihisab dengan mudah, dan ia akan berseru, “Inilah kitabku, bacalah, sesungguhnya aku sebelumnya meyakini akan ada hisab terhadapku.” Ia akan dikumpulkan dengan keluarganya dalam keadaan suka cita di surga. Ia ditempatkan di surga yang tinggi dipenuhi dengan buah-buahan yang mudah dipetik. Kepada mereka dikatakan, “Silahkan makan dan minum dengan sedap, karena kamu telah mengerjakan amal-amal yang baik pada hari-hari yang lalu.”
Adapun orang yang banyak amal buruknya, imannya dicampur dengan syirik, ibadahnya penuh dengan bid’ah, merasa bangga dengan dosa, jarang berdzikir dan istighfar, merasa cukup dengan amal baik yang sedikit, sehingga dosanya lebih berat dari amal baiknya, ia akan diberi kitab dari sebelah kiri atau belakangnya, saat itu ia berteriak histeris, “Celakalah aku…” (Q.S 84:11). Ia pun mengeluh, “Alangkah baiknya andai kitab ini tidak diberikan kepadaku, aku pun tidak tahu bagaimana hisab terhadapku ini. Kiranya kematian itulah yang menyelesaikan sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat bagiku. Telah hilang kekuasaan dariku…” Lalu Allah memerintahkan, “Peganglah dia, lalu belenggukan tangannya ke lehernya, kemudian masukkan ia kedalam neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah ia dengan rantai yang panjangnya 70 hasta. Sesungguhnya ia dulu tidak beriman kepada Allah yang Maha Besar. Dan tidak menganjurkan orang lain untuk memberi makan orang miskin. Maka tidak ada seorang teman pun baginya hari ini di sini. Dan tidak pula sedikit pun makanan baginya kecuali nanah bercampur darah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.” (Q.S 69:30-37).
Bersyukurlah hari ini kita masih diberi kesempatan untuk berbuat banyak; kesempatan untuk beribadah sesuai uswah dan bermu’amalah sesuai syariah. Kesempatan untuk menghindari diri dari api neraka. Bacalah kitab kita hari ini, timbanglah setiap amal. Bersemangatlah dalam berbuat baik dan bertobatlah jika berbuat dosa atau kesalahan. Mohonlah petunjuk Allah agar dimudahkan menelusuri shirathal mustaqim dan disulitkan untuk maksiat.
Bagaimana Kita Di Akhirat
Ditulis dalam artikel islam | Tag:akhirat, muslim
AGAR ANDA BAHAGIA DENGAN SUAMI ANDA
1. Jangan membiarkan suami anda memandang dalam keadaan anda tidak menggembirakannya. Wanita yang paling baik adalah wanita yang selalu membuat suaminya bahagia.
2. Hendaklah senyum itu senatiasa menghiasi bibirmu setiap anda dipandang oleh sang suami.
3. Perbanyaklah mencari keridhan suami dengan mentaatinya, sejauh mana ketaatan anda kepada suami, sejauh itu pulalah dia merasakan cintamu kepadanya dan dia akan segera menuju keridhaanmu.
4. Pilihlah waktu yang tepat untuk meluruskan kesalahan suami.
5. Jadilah anda orang yang lapang dada, janganlah sekali-kali menyebut-nyebut kekurangan suami anda kepada orang lain.
6. Perbaikilah kesalahan suami dengan segala kemampuan dan kecintaan yang anda miliki, janganlah berusaha melukai perasaannya.
7. Janganlah memuji-muji laki-laki lain dihadapan suami kecuali sifat diniyah yang ada pada laki-laki tersebut.
8. Jangan engkau benarkan ucapan negatif dari orang lain tentang suamimu.
9. Upayakan untuk tampil di depan suamimu dengan perbuatan yang disenanginya dan ucapan yang disenanginya pula.
10. Berilah pengertian kepada suami anda agar dia menghormatimu dan saling menghormati dalam semua urusan.
11. Anda harus selalu merasa senang berkunjung kepada kedua orang tuanya.
12. Janganlah anda menampakkan kejemuan padanya, jika terjadi kekurangan materi Ingatlah bahwa apa yang ia berikan kepadamu sudah lebih dari cukup.
13. Biasakanlah anda tertawa bila ia tertawa, menangis dan bersedih jika ia bersedih. Karena bersatunya perasaan akan melahirkan perasaan cinta kasih.
14. Diam dan perhatikanlah jika ia berbicara.
15. Janganlah banyak mengingatkan bahwa anda pernah meminta sesuatu kepadanya. Bahkan jangan diingatkan kecuali jika anda tahu bahwa ia mudah untuk diingatkan.
16. Janganlah anda mengulangi kesalahan yang tidak disenangi oleh suami anda dan ia tidak suka melihatnya.
17. Jangan lupa bila anda melihat suami anda shalat sunnah di rumah, hendaknya anda berdiri dan ikut shalat dibelakangnya. Jika ia membaca, hendaknya anda duduk mendengarkannya.
18. Jangan berlebih-lebihan berbicara tentang angan-angan pribadi di depan suami, tetapi mintalah selalu agar ia menyebutkan keinginan pribadinya di depanmu.
19. Janganlah mendahulukan pendapatmu dari pendapatnya pada setiap masalah, baik yang kecil maupun yang besar. Hendaklah cintamu kepadanya mendorong anda mendahulukan pendapatnya.
20. Janganlah anada mengerjakan shaum sunnah kecuali dengan izinnya, dan jangan keluar rumah kecuali dengan sepengetahuannya.
21. Jagalah rahasia yang disampaikan kepadamu dan janganlah menyebarkannya sekalipun kepada kedua orang tuanya.
22. Hati-hati jangan sampai menyebut-nyebut bahwa anda lebih tinggi derajatnya dari derajat suami. Hal itu akan mengundang kebencian kepadamu.
23. Jika salah satu dari orang tuanya sakit atau kerabatnya, maka anda punya kewajiban untuk menjenguk bersamanya.
24. Sesuaikanlah peralatan rumah tangga anda dengan barang-barang yang disenangi suami anda.
25. Jangan sampai anda meninggalkan rumah meskipun sedang bertengkar dengannya.
26. Katakanlah kejemuan dan kebosananmu ketika ia sudah meninggalkan rumah.
27. Terimalah udzurnya ketika ia membatalkan janjinya untuk keluar bersamamu, karena mungkin ia terpaksa memenuhi panggilan orang yang datang kepadanya.
28. Hindari sifat cemburu, sesungguhnya cemburu adalah senjata penghancur.
29. Janganlah mengabaikan pemimpinmu (suami) dengan alasan bahwa ia telah menjadi suamimu.
30. Janganlah anda berbicara dengan sang suami, seakan-akan anda suci dan dia berdosa.
31. Jagalah perasaannya, jangan gembira ketika dia sedang sedih dan jangan menangis ketika dia gembira.
32. Perbanyaklah menyebut-nyebut keutamaan suami di hadapannya.
33. Perlihatkan kepada suamimu bahwa anda turut merasakan apa yng dirasakan sang suami tatkala ia tidak berhasil mencapai maksud dan tujuannya.
34. Perbaharuilah (tekad suami) ketika terjadi kegagalan.
35. Jauhilah sifat dusta karena hal itu kanmenyakitkannya.
36. Ingatkanlah selalu pada suamimu bahwa anda tidak tahu (bagaimana nasib anda) seandainya anda tidak dipersunting olehnya.
37. Ucapkanlah rasa syukur dan terima kasih pada waktu ia memberikan sesuau kepadamu.
Sumber: “Nasehat kepada para Muslimah”, bagian kedua, Fathi Majdi as-Sayyid., Pustaka
Arafah, Cetakan I: April 2001/Muharram 1422H, hal.66-70
Ditulis dalam artikel islam | Tag:islam, muslimah
Beginilah Seharusnya Seorang Muslim Di Bulan Ramadhan!!!
Dialah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, bulan yang syaithan-syaithan dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan pintu-pintu surga dibuka, serta dialah bulan yang di dalamnya terdapat Lailatul Qodar, yang apabila seorang hamba beribadah di malam itu lebih baik dari seribu bulan. Segala puji bagi Alloh yang telah mengizinkan kita semua bersua dengan bulan ini.
Wahai kaum muslimin, marilah kita jadikan bulan ramadhan kita ini sebagai bulan terakhir kita, seakan-akan kita tidak akan menjumpainya lagi tahun depan. Marilah kita isi bulan ini dengan amalan-amalan yang berguna, karena Nabi yang mulia ‘alaihi Sholatu wa Salam telah bersabda :
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ (صحيح, رواه أحمد وابن ماجه و الدارمي والبيهقي عن سعيد المقبري عن أبي هريرة)
“Berapa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan rasa haus dan lapar belaka.” (Shohih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Darimi dan Al-Baihaqi dari Abu Sa’id Al-Maqburi dari Abu Hurairoh).
Sungguh benar sabda nabi di atas karena beginilah mayoritas kaum muslimin saat ini, yang perutnya berpuasa dari makan dan minum, namun matanya, telinganya, lisannya dan hatinya tidak turut berpuasa. Mereka masih gemar berkata kotor, berdusta, mencaci maki, memandang yang haram, mendengarkan yang haram dan perbuatan-perbuatan maksiat lainnya.
Wahai kaum muslimin yang berbahagia, sungguh indah ucapan Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqolani rahimahullahu yang berkata di dalam Fathul Bari (I/31) : “Bulan ramadhan adalah musim kebajikan, dikarenakan nikmat Alloh atas hamba-hambanya di bulan ini berlipat ganda dibanding bulan-bulan lainnya.” Oleh karena itu wahai kaum muslimin, beginilah seharusnya seorang mukmin itu di dalam bulan ramadhan :
Pertama, Berpuasa.
Ini merupakan kewajiban dan termasuk bagian rukun Islam. Makna berpuasa adalah menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkannya mulai dari waktu terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari.
Wahai hamba Alloh, sungguh besar sekali ganjaran orang yang melakukan puasa, sebagaimana dalam sabda nabi :
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَبًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبْهِ (متّفق عليه)
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala maka niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaihi).
Di dalam hadits-hadits lainnya yang shohih, sangat besar sekali keutamaan orang yang berpuasa, diantaranya adalah :
-
puasa itu adalah perisai
-
Puasa dapat memasukkan seorang hamba ke dalam surga
-
Orang yang berpuasa akan diberi pahala yang tak terhitung
-
Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan yaitu gembira ketika berbuka dan gembira ketika bertemu Alloh
-
Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi dari kesturi
-
Puasa akan memberikan syafa’at bagi pelakunya
-
Puasa dapat menjadi penebus segala dosa-dosanya, dan
-
Bagi orang yang berpuasa dijanjikan masuk surga melalui pintu yang bernama ar-Royyan. Maha suci Alloh yang telah menjadikan kita sebagai orang-orang yang berpuasa.
Kedua, Qiyamul lail (Sholat Tarawih berjama’ah).
Termasuk sunnah Nabi yang mulia adalah melaksanakan sholat tarawih berjama’ah, menghidupkan malam-malam ramadhan bersama-sama kaum muslimin lainnya, sehingga dapat lebih mengikat tali persaudaraan dan silaturrahim, membuahkan rasa cinta dan itsar (memiliki kepedulian) terhadap saudara muslim sehingga dapat menyuburkan benih-benih persatuan Islam.
Rasulullah Shollollohu ‘alaihi wa Salam bersabda :
مَنْ قََََامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَبًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (متّفق عليه)
“Barangsiapa sholat malam pada bulan ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala maka niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaihi).
Ketiga, Memperbanyak sedekah.
Sesungguhnya Nabi yang mulia ‘alaihi sholatu wa salam adalah orang yang paling gemar bersedekah terutama di bulan ramadhan. Demikian pula para sahabat beliau dan para salaful ummah.
Keempat, Memberi makan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa.
Nabi Shollollohu ‘alaihi wa Salam sangat menganjurkan untuk memberi makan kepada orang yang berpuasa, karena yang demikian ini mengandung pahala yang besar dan kebaikan yang berlimpah. Rasulullah Shollollohu ‘alaihi wa Salam bersabda :
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَائِمِ شَيْئًا (رواه أحمد و الترمذي)
“Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti yang diperoleh orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun.” (HR Ahmad dan Turmudzi)
Kelima, Membaca Al-Qur’an
Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagaimana dalam firman Alloh Ta’ala :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ القُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الهُدَى وَالفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (QS Al-Baqoroh : 185)
Bahkan Jibril ‘alahi Salam setiap malam datang mengajarkan Al-Qur’an kepada Nabi. Sungguh, Al-Qur’an akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya, sebagaimana sabda Nabi Shollollohu ‘alaihi wa Salam :
اِقْرَأُوا القُرْآنَ فََإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لأَصْحَابِهِ (رواه مسلم عن أبي أمامة)
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi pembacanya.” (HR Muslim dari Abu Umamah)
Keenam, Umroh
Umroh pada bulan Ramadhan sangat besar sekali keutamaanya, sebagaimana sabda Nabi yang mulia alaihi Sholatu wa Salam :
عُمْرَةُ فِيْ رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً مَعِيْ (متفق عليه)
“Berumroh pada bulan Ramadhan sepadan dengan haji bersamaku” (Muttafaq ‘alaihi) baik pada awal maupun pertengahan Ramadhan. Tidak ada pengkhususan tentang lebih utamanya sepuluh hari akhir di dalam berumroh. Maka hendaknya hal ini diperhatikan.
Ketujuh, Mencari malam Lailatul Qodar.
Sesungguhnya beribadah pada malam Lailatul Qodar pahalanya sama dengan beribadah selama seribu bulan. Maka hendaknya seorang muslim harus bersegera menyingsingkan lengan bajunya untuk menyambut malam yang penuh berkah ini. Karena Nabi yang mulia ‘alaihi Sholatu wa Salam bersabda :
مَنْ قََََامَ لَيْلَةَ القَدَرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَبًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبْهِ (متّفق عليه)
“Barangsiapa sholat pada malam Lailatul Qodar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala maka niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaihi) Yaitu pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir.
Wahai hamba Alloh apabila seorang hamba beribadah pada malam Lailatul Qodar, maka hendaknya dia mengucapkan :
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي (رواه الترمذي وابن ماجه)
“Ya Alloh sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Mencintai Ma’af maka berikanlah Ma’af padaku” (HR Turmudzi dan Ibnu Majah)
Kedelapan, I’tikaf.
I’tikaf merupakan ibadah kholwat (menyendiri) dengan Alloh, menyibukkan diri hanya kepada Alloh dan memutuskan diri dari hiruk pikuk duniawi. Setiap keinginan dan detak hatinya hanya tertuju kepada Alloh dan segala kesibukannya hanyalah untuk Alloh semata. Rasulullah Shollollohu ‘alaihi wa Salam tidak pernah meninggalkan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan, bahkan pada tahun dimana beliau wafat, beliau melakukan I’tikaf selama dua puluh hari.
Wahai hamba Alloh, perhatikanlah tauladan kita Rasulullah dan para sahabatnya. Tatkala di penghujung bulan Ramadhan mayoritas masyarakat muslim bersibuk ria dengan pakaian, makanan dan urusan duniawi dalam rangka menyambut Iedul Fitri, namun tauladan dan kecintaan kita beri’tikaf di Masjid, lebih berkonsentrasi di dalam beribadah kepada Alloh, melepaskan urusan duniawinya dan lebih menyibukkan diri dengan ketaatan kepada Alloh. Maha Besar Alloh, padahal beliau adalah orang yang telah dijanjikan surga oleh Alloh, dan segala dosanya yang telah lalu dan akan datang diampuni oleh Allah Al-Ghofur, namun keteladanan beliau benar-benar menunjukkan akhlak yang agung, yang tiada tandingan dan bandingannya. Subhanalloh.
Beberapa kesalahan dan bid’ah pada Bulan Ramadhan.
Wahai hamba Alloh, teladan kita adalah Rasulullah Muhammad Shollollohu ‘alaihi wa Salam dan tiada seorangpun yang lebih layak kita teladani melainkan hanya beliau. Oleh karena itu, segala amalan yang tidak dituntunkan oleh beliau dan diajarkan beliau, maka perkara tersebut adalah tertolak dan wajib kita hindari. Diantara kesalahan-kesalahan tersebut adalah :
-
Mempercepat waktu sahur dan memperlambat berbuka puasa.
-
Menahan diri dari makan dan minum selama beberapa saat sebelum datang waktu subuh yang mereka sebut sebagai waktu imsak.
-
Memuntahkan makanan dan minuman dari mulut ketika terdengar adzan.
-
Melafazhkan atau mengucapkan niat berpuasa.
-
Mempercepat sholat tarawih dan tidak adanya thuma’ninah di saat sholat tarawih.
-
Membaca sholawat ataupun ucapan selainnya semisal, Shollu sunnata tarawih rak’ataini jami’aa rahimakumullahu!!! atau selainnya setiap jeda sholat tarawih. Yang demikian ini tidak ada sunnahnya dari nabi dan termasuk bid’ah yang jelek di dalam agama.
-
Mengkhususkan sholat tasbih di bulan Ramadhan.
-
Membaca do’a secara berjama’ah setiap setelah sholat tarawih.
-
Menentukan surat-surat tertentu pada tiap-tiap roka’at sholat tarawih.
-
Beranggapan bahwa memotong kuku, membersihkan telinga atau keramas pada siang hari membatalkan puasa.
Dan selainnya yang tidak pernah dituntunkan oleh Nabi yang mulia Shollollohu ‘alaihi wa Salam.
Demikianlah secuil pembahasan mengenai bagaimana seharusnya seorang muslim di bulan Ramadhan. semoga yang sederhana ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua, dan semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kita kesehatan dan kekuatan sehingga kita mampu melaksanakan apa yang diperintahkan Alloh dan Rasul-Nya, dan semoga Alloh masih memberi kita kesempatan untuk bertemu bulan Ramadhan berikutnya. Semoga segala amalan kita diterima oleh Alloh Azza wa Jalla dan segala dosa kita diampuni. Amin Ya Robbal Alamin.
Ditulis dalam artikel islam | Tag:muslim, romadhon



Create a playlist at MixPod.com
Ditulis dalam Uncategorized
UCAPAN SELAMAT TAHUN BARU UNTUK BUMI
Oleh Laila Amalina Qadria
Segala persiapan menjelang malam pergantian tahun baru sudah. Bakar jagung sudah. Tiup terompet sudah. Kumpul bareng keluarga ataupun teman sudah. Makan-makan ataupun jalan-jalan dalam menyambut tahun baru sudah. Pesta kembang api sudah. Hmmm…Segala yang berhubungan dengan tradisi tahun baruan sudah terlaksana nih.. Wah tanggal 1 Januari 2009 yang berasa kemaren ditunggu, ehh sekarang udah lewatt ajaa.. Hari-hari pun akan berjalan normal seperti tahun-tahun sebelumnya. Yya, bumi tetap menjalankan kewajibannya berputar mengelilingi matahari selama 365 hari. Lalu kita? Hm, manusia terkadang memenuhi satu kewajiban yang tak diiringi dengan pemenuhan kewajiban lainnya. Manusia sering tak mampu menjaga keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupannya. Hak terus dituntut. Hak terus dipinta. Hak terus diusahakan. Tetapi kewajiban inginnya dikurangi melulu….(heuhee..ya juga ya..)
Guys, sadar ga sih kita selama ini tinggal di manaaa…Sadar ga sih kita sudah hidup berapa tahun lamanya di siniii…Sadar ga sih apa aja yang udah kita lakuin di atas pijakan kita iniii…Lantas sadar gaa siih kita berhutaaang banyak pada bumi ini?!
Saat terlahir ke dunia, kita menangis. Orang tua mengajarkan segala kebaikan kepada kita. Kita pun disekolahkan. Kita mendapatkan berbagai mata pelajaran di sekolah. Tujuan lembaga pendidikan formal adalah mendidik siswa-siswinya agar mampu menjadi individu yang berbudi pekerti luhur, bertaqwa pada Tuhan YME, dan siap terjun di masyarakat kelak. Kita diharapkan mampu mengamalkan segala ilmu yang telah didapat. Apakah dunia pendidikan Indonesia berhasil menanamkan 3 hal yang menjadi visinya tersebut??
Setiap hari kita bangun pagi bersiap pergi ke sekolah. Seragam dikenakan. Atribut seragam pun tak mau ketinggalan. Kita takut kalau-kalau akan ada razia, jadi double tip pun selalu tersedia di tas untuk menempel nama atau lokasi sekolah yang belum terjahit permanen di baju seragam.. Sarapan tak sarapan yang penting tak terlambat datang di sekolah. Sebelum memulai pelajaran, banyak sekolah yang menjadwalkan mengaji bagi anak didiknya yang beragama Islam. Begitu terlihat menyenangkan. Tingkat toleransi antar umat beragama amat tinggi di lingkungan sekolah. Kegiatan belajar dan mengajarpun dimulai. Hari-hari bersekolah terus dijalankan bertahun-tahun. Diharapkan akan ada hasil untuk diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Satu hal yang sering terlewati yaitu feedback kita terhadap alam ini. Kita disekolahkan agar menjadi individu yang bermoral, berbudi pekerti luhur. Dengan pengetahuan yang dimiliki, seharusnya kita mengaplikasikan teori-teori pelajaran ke dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) kini sudah menjadi pelajaran tambahan di sekolah-sekolah. Tujuan diadakan PLH adalah agar menyeimbangi mata pelajaran utama dengan kepahaman kita terhadap alam. Diharapkan kita menjadi manusia yang peduli akan tempat kita berpijak ini. Diharapkan kita dapat membantu alam kala dia meminta bantuan. Diharapkan kita menjadi sahabat untuk dia, begitupun sebaliknya, dia menjadi sahabat untuk kita. Sahabat abadi. Sahabat yang kompak. Sahabat yang tak egois. Sahabat yang saling memahami. Sahabat yang dengan tulus saling tolong-menolong.
Apakah segala visi dan misi diadakannya PLH sudah tercapai??
Tak jauh dari dunia pendidikan, dunia politik dan pemerintahan pun menanamkan hal yang sama. Berbagai kota di Indonesia tetap setia dengan tema kelingkungannya sebagai pelengkap diantara tema perekonomian dan keagamaan. Berbagai usaha sebagai simbol terlaksananya visi kota tersebut dalam hal kelingkungan terus digalakkan. Program menanam seribu pohon bertebaran di mana-mana. Seolah manusia lagi ’eling’nya sekarang-sekarang ini. Mereka amat vokal untuk kegiatan pro lingkungan. Syukurlah, bencana alam seperti banjir dan tanah longsor mampu menyadarkan beberapa di antara kita. Ya, wujud kesadaran manusia terhadap alam dihasilkan dari bencana yang terus menyapa masyarakat Indonesia. Manusia sudah tahu dan takut akan kiamat kecil ini. Bahkan mereka takut akan kiamat besar yang sewaktu-waktu akan terjadi. Kata ’takut’ menjadi kunci kesadaran mereka. Tahu tapi tak berbuat. Tahu tapi hanya berkata ataupun menulis. ”Mana akal pikiran dan hati nuranimu wahai manusia??” Itulah kalimat yang kurang lebih bisa melukiskan suasana bumi ini. Walahh ga kebayang deh..
Alam Indonesia terus dikeruk. Dari Sabang sampai Merauke digali abis-abisan. Dari kekayaan yang ada di dalam hingga yang nampak di permukaan bumi. Lubang-lubang bekas pertambangan ditinggalkan begitu saja. Waduhh..Kita tuh mengeksploitasi abiz tanpa mengeksplorasi. Kita memanfaatkan alam dengan orientasi ekonomi banged. Malu dun harusnya..Kita bisanya cuma gitu doank..Dalam memanfaatkan kekayaan bumi ini, kita seharusnya menjalankan tiga prinsip. Prinsip berwawasan lingkungan dan berkelanjutan, prinsip mengurangi, dan prinsip daur ulang. Prinsip berwawasan lingkungan dan berkelanjutan seperti reboisasi, pembuatan sengkedan di tanah miring, menjaga kelestarian Daerah Aliran Sungai, dll. Prinsip mengurangi berarti kita jangan mengambil kekayaan alam ini secara membabi buta. Ambil sedikit sesuai kebutuhan. Keinginan kalau terus diikuti akan menimbulkan penyakit egois. Egois tuh mau menang sendiri dan berarti kita tuh udah serakah. Kalo ada pihak yang serakah berarti otomatis ada pihak yang jadi korbannya. Jangan okehh.. Nah kalo prinsip daur ulang berati kita bisa memanfaatkan barang bekas pakai agar menjadi barang yang memiliki nilai guna lagi. Jadi, kita sebaiknya pintar-pintar melirik barang yang bisa didaur ulang. Dari situ kalo niat kita baik dan kita tekun melakukannya otomatis rejeki ngalir untuk kita.
Selama ini kita tuh nganggep alam sebagai objek. Dari paradigma demikian, otomatis ketanem di otak, kita lah sang penguasanya. (Wah sok banget kita ya..hha). Padahal ditiup angin puting beliung bentar aja udah jatohh. Ahaha. Kita lawan pohon aja masih kalah tuh. Contohnya, kalo ketimpa pohon gede di jalan gitu, manusia bisa langsung meninggal. Itu jadi salah satu bukti kan kita tu ga ada apa-apanya, Sobat! Kita ga berdaya oleh murka alam ini. Belum murka denk, pemanasan aja kita udah ga berdaya. Wah kalo murka serem bangeddd yaa.. Makanya, jangan sampai deh. Mumpung belum murka, ayo kita perbaiki paradigma kita terhadap alam ini! Relasi kita dengan alam adalah subjek-subjek. Tinggalkan paradigma subjek-objek tadi. Jadul pisan euy!
Kita sebagai warga Indonesia kadang suka mencela kekurangan Negeri Indonesia
ini. Tetapi satu hal yang pertama kita banggakan yaitu alam Indonesia. Kelebihan utama yang kini menjadi kekurangan. Kelebihan yang kini menjadi problema besar.
Kelebihan yang kini menjadi bahan olok-olokkan bangsa lain. Kelebihan yang kini menjadi pembicaraan global.
Kelebihan yang kini menjelma menjadi sebuah keprihatinan yang amat mendalam. Kelebihan yang kini menjadi suatu ancaman. Kelebihan yang sewaktu-waktu menjadi malapetaka. Ya, seiring waktu kelebihan tersebut terkikis sudah. Kelebihan yang tereduksi oleh khalifah bumi ini. Kelebihan dimana menjadi realitas yang harus segera diselesaikan demi terjalinnya persahabatan.
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Adalah kewajibannya untuk memimpin kelangsungan hidup di bumi ini. Manusia, hewan, dan tumbuhan merupakan ciptaan-Nya. Manusia dianugerahi hewan dan tumbuhan sebagai teman hidupnya. Manusia dibuahi akal untuk bertindak. Manusialah yang harus memimpin kelangsungan kehidupan di alam ini. Manusialah yang harus mampu mengontrol dengan terampil hubungannya dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain.
Hmmm,, guys sekarang sudah lebih paham kan?? Kita sebagai anak muda nihh kudu bisa berbuat positif untuk negara! Jangan sekadar demo duank dong! Malu ah.. Kalo demo lagi demo lagi ntar bapa-bapa kita di pemerintahan ngiranya kita cuma mau nunjukkin eksistensi komunitas kita lagiii. Huhhh. Cape dehh! So, lebih baik talk less do more! Ahaha. Eh seriusan lho ini.. Sudah saatnya kita tuh berbuat banyak untuk lingkungan sekitar. Mulai dari hal terkecil ajaa. Pastinya sudah sering dengar kan sebaiknya ngapain aja?! Dari buang sampah pada tempatnya hingga aktif dalam kegiatan bertemakan lingkungan. Kita sebagai orang berpendidikan harus menunjukkan perbedaan antara orang terdidik dan ga terdidik dong tentunya………Orang berpendidikan seharusnya berprilaku lebih baik daripada mereka yang tak sempat mengeyam pendidikan tinggi. Eh tapi jangan salah lho, kita masih kalah sadarnya sama mereka yang berpendidikan rendah tetapi berpikir dan bertindak lebih menghargai alam.
Masa kita yang SMA kalah sama mereka yang tamatan SD tapi menjadi orang berbahagia karena cinta lingkungan?? Pernah liat ga seorang pembalak liar yang kini sudah tobat menjadi pecinta lingkungan? Belajarlah dari pengalamannya. Dia saja amat menyesali perbuatannya. Tetapi kini, dia menjadi sahabat bumi. Wajahnya pun berseri-seri sebagai cerminan bahwa dia bahagia bisa bersahabat dengan bumi.
Ya, gw harap kita lebih mengerti sekarang. Gw berharap banged, kita berani berbuat sekarang. Yo ah kompakk, guys!!! Sudah terlalu lama kita terlena. Sudah terlalu lama bumi menangis. Sudah saatnya masa remaja diisi dengan hal-hal positif. Sudah saatnya motivasi untuk berbuat berkobar dalam jiwa. Bertahun-tahun hanya kartu ucapan selamat tahun baru yang terbuang sia-sia. Bertahun-tahun hanya kata-kata bahagia lewat sms yang menyapa. Mana sapaan tahun baru kita untuk bumi?? Mana ucapan tahun baru untuk alam ini?? Ya, alam ini menanti ucapan tahun baru dari kita. Bumi menanti tahun barunya. Ucapan tahun baru yang dimaknai bumi sebagai ucapan dan tindakan manusia yang berubah menjadi lebih menghargai alam. Ucapan terima kasih dan penyesalannya terhadap bumi yang diiringi dengan perubahan dalam menjalin relasi.
Ditulis dalam Uncategorized
Indonesiaku
Laila Amalina Qadria
Aku dalam Indonesia ku melihat tetapi Indonesia ku lah yang lebih merasakan. Indonesia sebagai sebuah negara dengan kemajemukannyalah yang lebih merasakan pahit maupun manis kebangsaan Indonesia. Indonesia dengan beragam suku, budaya, agama, bahasa, karakter, dan masih banyak lagi. Semua itu terhimpun di Negeri ini.
Pembangunan ekonomi tahun demi tahun terus digenjot. Pemerintah terus berusaha menaikkan kesejahteraan rakyat. Pemerintah terus berusaha mendengarkan keluh kesah rakyatnya hingga mencoba berbuat sesuatu untuk merubahnya. Pemerintah memperbaiki sarana dan pra sarana umum, baik dari segi kesehatan, pendidikan, hingga jalan, jembatan, dsb.
Pembangunan ekonomi tentunya bertujuan untuk memperkecil jurang pemisah antara golongan kelas atas dan bawah. Ketersediaan lapangan kerja yang lebih banyak diiringi pengurangan tingkat pengangguran sangat diharapkan terjadi.
Pembangunan ekonomi sedari dulu nampaknya menjadi prioritas dalam pembangunan nasional. Beberapa berpendapat, dengan pembangunan ekonomi yang bergerak vertikal ke atas maka secara otomatis aspek-aspek kehidupan lainnya akan mengalami peningkatan pula.
Banyak pemuda Indonesia berharap bisa menjadi pengusaha. Mereka berasumsi, menjadi pengusaha nan sukses akan membawa kesenangan. Mereka berorientasi akan materi. Materi itulah yang kini membuat mereka berpikir. Mereka berpikir bagaimana bisa meraih targetnya. Mereka berpikir, mencari, menilik, dan berani mengambil setiap peluang yang melintas di depannya. Mereka memberanikan diri memanfaatkan tiap kesempatan dengan segala resiko yang siap tak siap harus mereka ambil pula.
Pengusaha-pengusaha itu tak lelah menggarap inovasi-inovasi yang diharapkan membawa keuntungan. Keuntungan yang akan bisa memenuhi targetnya tadi. Mereka sendiri bergerak tetapi lebih suka menggerakkan orang lain untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Mereka lebih menggunakan otak mereka. Rasionalitas yang lebih sering egois ternyata. Mereka berusaha dengan jeli melihat peluang, mengambil kesempatan itu, lalu mencari pasar yang pas. Dengan begitu, bisnis mereka akan sukses.
Indonesia yang menyediakan banyak ruang, semakin hari semakin tak memiliki ruang untuk bernapas. Pengusaha lama maupun baru berdatangan, berlomba mengambil tiap lahan potensial untuk mengembangkan usahanya. Modal ditanamkan, tiang beton ditancapkan. Bisa kita lihat para buruh bangunan bekerja sejak pagi hingga sore hari untuk mewujudkan permintaan sang bos. Dengan menghitung jam, perwajahan Indonesia pun sudah pangkling.
Jakarta dengan gedung-gedung pencakar langitnya sudah tak aneh untuk orang sekarang. Dahulu, di mana wajah Jakarta baru saja bertransformasi, orang tua kita melihatnya dengan mimik muka yang amat berdecak kagum. Akibat kekagumannya itu, tingkat urbanisasi pun tinggi. Orang-orang desa memiliki cita-cita untuk bisa mengunjungi Jakarta. Mereka akan berteriak dan berlompat ketika berhasil melihat MONAS.
Seiring waktu, decak kagum yang menggembirakan itu sudah tak ada. Decak kagum yang menyenangkan hati itu sudah berubah menjadi sebuah keprihatinan. Jakarta bisa disebut kota acuan untuk kota-kota lainnya. Jakarta sudah lengkap, mulai dari mall-mall megah hingga pusat bisnis dan pemerintahan. Bandung, Surabaya, Medan, dan kota-kota besar lainnya sedang mengembangkan diri menjadi kota dengan pendapatan daerah yang tinggi. Slogan sebagian besar kota di Indonesia adalah menyandingkan kata kesuksesan, spiritualitas dan keramahan lingkungan. Ketiga kata itu merefleksikan visi dan misi kota tersebut. Kenyataannya, sering tak ada keseimbangan antara ketiga kata itu.
Gedung-gedung pencakar langit, ruangan ber-AC, mobil-mobil mewah di jalanan, gaya berbusana yang up to date di perkotaan, seolah menutup jerit tangis mereka yang belum bisa melakukan mobilitas sosial vertikal ke atas. Di antara indikator-indikator di atas, yang paling dominan merubah perwajahan Indonesia adalah gedung-gedung yang terus dibangun. Beton-beton itu bisa disebut amat kejam karena mampu menyamarkan ataupun menutupi kesengsaraan rakyat lapisan menengah ke bawah.
Gedung menyala terang di tengah malam. Kursi empuk, kantin dengan makanan-makanan lezatnya, kelap-kelip lampu depan gedung-gedung itu sangat kontras dengan pemukiman kumuh yang mencoba menyelip di bawah jembatan. Potongan kardus-kardus yang telah dipilih disusun dan terangkailah suatu bangunan untuk beristirahat. Kepala bersandarkan kepalan tangan, kedua kaki dibiarkan tanpa selimut, bahkan untuk berbagi tempat tidur dengan anggota keluarga lainnya, kedua kaki itu harus ditekuk. Lalu jika kepanasan, tak ada AC maupun kipas angin untuk mendinginkan suhu ruangan. Makan saja susah apalagi mendapatkan tempat layak untuk tinggal. Memandang mereka yang bermimpi dapat makan nasi dan lauknya saja, sungguh mampu membuat orang-orang yang peduli akannya menyeka air mata. Hanya saja, beton-beton tadi lebih dominan mengisi spasi tengah kota. Efektivitas program pembangunan nasional terus mereka nanti. Mereka berusaha memompa optimisme untuk hidup sebagai titik tolak langkahnya setiap hari.
Berbagai aspek kehidupan masih amat prihatin. Kualitas kependudukan Indonesia, dimulai dari kulitas kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, masih banyak yang harus dibenahi maupun direkonstruksi. Keprihatinan muncul karena orientasi materiil yang sudah melewati ambang batas. Eksploitasi lahan tanpa eksplorasi dan pertanggungjawaban moral urung dilakukan. Beton-beton tadi seolah menutupi keprihatinan tersebut. Lalu pertanyaannya adalah siapakah yang salah, beton-beton tadi ataukah pemerintah ataukah segenap rakyat negeri ini? Apa konsep pembangunan itu sendiri yang belum jelas??
Tak perlu Anda melontarkan jawabannya. Simpan saja dalam hati lalu lakukan sesuatu yang terbaik untuk semua.
Ditulis dalam Uncategorized
Assalamualaikum !
hai teman2..
Ditulis dalam Uncategorized
BETON YANG MENYAMARKAN KESEJAHTERAAN INDONESIA
Aku dalam Indonesia ku melihat tetapi Indonesia ku lah yang lebih merasakan. Indonesia sebagai sebuah negara dengan kemajemukannyalah yang lebih merasakan pahit maupun manis kebangsaan Indonesia. Indonesia dengan beragam suku, budaya, agama, bahasa, karakter, dan masih banyak lagi. Semua itu terhimpun di Negeri ini.
Pembangunan ekonomi tahun demi tahun terus digenjot. Pemerintah terus berusaha menaikkan kesejahteraan rakyat. Pemerintah terus berusaha mendengarkan keluh kesah rakyatnya hingga mencoba berbuat sesuatu untuk merubahnya. Pemerintah memperbaiki sarana dan pra sarana umum, baik dari segi kesehatan, pendidikan, hingga jalan, jembatan, dsb.
Pembangunan ekonomi tentunya bertujuan untuk memperkecil jurang pemisah antara golongan kelas atas dan bawah. Ketersediaan lapangan kerja yang lebih banyak diiringi pengurangan tingkat pengangguran sangat diharapkan terjadi.
Pembangunan ekonomi sedari dulu nampaknya menjadi prioritas dalam pembangunan nasional. Beberapa berpendapat, dengan pembangunan ekonomi yang bergerak vertikal ke atas maka secara otomatis aspek-aspek kehidupan lainnya akan mengalami peningkatan pula.
Banyak pemuda Indonesia berharap bisa menjadi pengusaha. Mereka berasumsi, menjadi pengusaha nan sukses akan membawa kesenangan. Mereka berorientasi akan materi. Materi itulah yang kini membuat mereka berpikir. Mereka berpikir bagaimana bisa meraih targetnya. Mereka berpikir, mencari, menilik, dan berani mengambil setiap peluang yang melintas di depannya. Mereka memberanikan diri memanfaatkan tiap kesempatan dengan segala resiko yang siap tak siap harus mereka ambil pula.
Pengusaha-pengusaha itu tak lelah menggarap inovasi-inovasi yang diharapkan membawa keuntungan. Keuntungan yang akan bisa memenuhi targetnya tadi. Mereka sendiri bergerak tetapi lebih suka menggerakkan orang lain untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Mereka lebih menggunakan otak mereka. Rasionalitas yang lebih sering egois ternyata. Mereka berusaha dengan jeli melihat peluang, mengambil kesempatan itu, lalu mencari pasar yang pas. Dengan begitu, bisnis mereka akan sukses.
Indonesia yang menyediakan banyak ruang, semakin hari semakin tak memiliki ruang untuk bernapas. Pengusaha lama maupun baru berdatangan, berlomba mengambil tiap lahan potensial untuk mengembangkan usahanya. Modal ditanamkan, tiang beton ditancapkan. Bisa kita lihat para buruh bangunan bekerja sejak pagi hingga sore hari untuk mewujudkan permintaan sang bos. Dengan menghitung jam, perwajahan Indonesia pun sudah pangkling.
Jakarta dengan gedung-gedung pencakar langitnya sudah tak aneh untuk orang sekarang. Dahulu, di mana wajah Jakarta baru saja bertransformasi, orang tua kita melihatnya dengan mimik muka yang amat berdecak kagum. Akibat kekagumannya itu, tingkat urbanisasi pun tinggi. Orang-orang desa memiliki cita-cita untuk bisa mengunjungi Jakarta. Mereka akan berteriak dan berlompat ketika berhasil melihat MONAS.
Seiring waktu, decak kagum yang menggembirakan itu sudah tak ada. Decak kagum yang menyenangkan hati itu sudah berubah menjadi sebuah keprihatinan. Jakarta bisa disebut kota acuan untuk kota-kota lainnya. Jakarta sudah lengkap, mulai dari mall-mall megah hingga pusat bisnis dan pemerintahan. Bandung, Surabaya, Medan, dan kota-kota besar lainnya sedang mengembangkan diri menjadi kota dengan pendapatan daerah yang tinggi. Slogan sebagian besar kota di Indonesia adalah menyandingkan kata kesuksesan, spiritualitas dan keramahan lingkungan. Ketiga kata itu merefleksikan visi dan misi kota tersebut. Kenyataannya, sering tak ada keseimbangan antara ketiga kata itu.
Gedung-gedung pencakar langit, ruangan ber-AC, mobil-mobil mewah di jalanan, gaya berbusana yang up to date di perkotaan, seolah menutup jerit tangis mereka yang belum bisa melakukan mobilitas sosial vertikal ke atas. Di antara indikator-indikator di atas, yang paling dominan merubah perwajahan Indonesia adalah gedung-gedung yang terus dibangun. Beton-beton itu bisa disebut amat kejam karena mampu menyamarkan ataupun menutupi kesengsaraan rakyat lapisan menengah ke bawah.
Gedung menyala terang di tengah malam. Kursi empuk, kantin dengan makanan-makanan lezatnya, kelap-kelip lampu depan gedung-gedung itu sangat kontras dengan pemukiman kumuh yang mencoba menyelip di bawah jembatan. Potongan kardus-kardus yang telah dipilih disusun dan terangkailah suatu bangunan untuk beristirahat. Kepala bersandarkan kepalan tangan, kedua kaki dibiarkan tanpa selimut, bahkan untuk berbagi tempat tidur dengan anggota keluarga lainnya, kedua kaki itu harus ditekuk. Lalu jika kepanasan, tak ada AC maupun kipas angin untuk mendinginkan suhu ruangan. Makan saja susah apalagi mendapatkan tempat layak untuk tinggal. Memandang mereka yang bermimpi dapat makan nasi dan lauknya saja, sungguh mampu membuat orang-orang yang peduli akannya menyeka air mata. Hanya saja, beton-beton tadi lebih dominan mengisi spasi tengah kota. Efektivitas program pembangunan nasional terus mereka nanti. Mereka berusaha memompa optimisme untuk hidup sebagai titik tolak langkahnya setiap hari.
Berbagai aspek kehidupan masih amat prihatin. Kualitas kependudukan Indonesia, dimulai dari kulitas kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, masih banyak yang harus dibenahi maupun direkonstruksi. Keprihatinan muncul karena orientasi materiil yang sudah melewati ambang batas. Eksploitasi lahan tanpa eksplorasi dan pertanggungjawaban moral urung dilakukan. Beton-beton tadi seolah menutupi keprihatinan tersebut. Lalu pertanyaannya adalah siapakah yang salah, beton-beton tadi ataukah pemerintah ataukah segenap rakyat negeri ini? Apa konsep pembangunan itu sendiri yang belum jelas??
Tak perlu Anda melontarkan jawabannya. Simpan saja dalam hati lalu lakukan sesuatu yang terbaik untuk semua.
Ditulis dalam Uncategorized

