Oleh Laila Amalina Qadria
Segala persiapan menjelang malam pergantian tahun baru sudah. Bakar jagung sudah. Tiup terompet sudah. Kumpul bareng keluarga ataupun teman sudah. Makan-makan ataupun jalan-jalan dalam menyambut tahun baru sudah. Pesta kembang api sudah. Hmmm…Segala yang berhubungan dengan tradisi tahun baruan sudah terlaksana nih.. Wah tanggal 1 Januari 2009 yang berasa kemaren ditunggu, ehh sekarang udah lewatt ajaa.. Hari-hari pun akan berjalan normal seperti tahun-tahun sebelumnya. Yya, bumi tetap menjalankan kewajibannya berputar mengelilingi matahari selama 365 hari. Lalu kita? Hm, manusia terkadang memenuhi satu kewajiban yang tak diiringi dengan pemenuhan kewajiban lainnya. Manusia sering tak mampu menjaga keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupannya. Hak terus dituntut. Hak terus dipinta. Hak terus diusahakan. Tetapi kewajiban inginnya dikurangi melulu….(heuhee..ya juga ya..)
Guys, sadar ga sih kita selama ini tinggal di manaaa…Sadar ga sih kita sudah hidup berapa tahun lamanya di siniii…Sadar ga sih apa aja yang udah kita lakuin di atas pijakan kita iniii…Lantas sadar gaa siih kita berhutaaang banyak pada bumi ini?!
Saat terlahir ke dunia, kita menangis. Orang tua mengajarkan segala kebaikan kepada kita. Kita pun disekolahkan. Kita mendapatkan berbagai mata pelajaran di sekolah. Tujuan lembaga pendidikan formal adalah mendidik siswa-siswinya agar mampu menjadi individu yang berbudi pekerti luhur, bertaqwa pada Tuhan YME, dan siap terjun di masyarakat kelak. Kita diharapkan mampu mengamalkan segala ilmu yang telah didapat. Apakah dunia pendidikan Indonesia berhasil menanamkan 3 hal yang menjadi visinya tersebut??
Setiap hari kita bangun pagi bersiap pergi ke sekolah. Seragam dikenakan. Atribut seragam pun tak mau ketinggalan. Kita takut kalau-kalau akan ada razia, jadi double tip pun selalu tersedia di tas untuk menempel nama atau lokasi sekolah yang belum terjahit permanen di baju seragam.. Sarapan tak sarapan yang penting tak terlambat datang di sekolah. Sebelum memulai pelajaran, banyak sekolah yang menjadwalkan mengaji bagi anak didiknya yang beragama Islam. Begitu terlihat menyenangkan. Tingkat toleransi antar umat beragama amat tinggi di lingkungan sekolah. Kegiatan belajar dan mengajarpun dimulai. Hari-hari bersekolah terus dijalankan bertahun-tahun. Diharapkan akan ada hasil untuk diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Satu hal yang sering terlewati yaitu feedback kita terhadap alam ini. Kita disekolahkan agar menjadi individu yang bermoral, berbudi pekerti luhur. Dengan pengetahuan yang dimiliki, seharusnya kita mengaplikasikan teori-teori pelajaran ke dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) kini sudah menjadi pelajaran tambahan di sekolah-sekolah. Tujuan diadakan PLH adalah agar menyeimbangi mata pelajaran utama dengan kepahaman kita terhadap alam. Diharapkan kita menjadi manusia yang peduli akan tempat kita berpijak ini. Diharapkan kita dapat membantu alam kala dia meminta bantuan. Diharapkan kita menjadi sahabat untuk dia, begitupun sebaliknya, dia menjadi sahabat untuk kita. Sahabat abadi. Sahabat yang kompak. Sahabat yang tak egois. Sahabat yang saling memahami. Sahabat yang dengan tulus saling tolong-menolong.
Apakah segala visi dan misi diadakannya PLH sudah tercapai??
Tak jauh dari dunia pendidikan, dunia politik dan pemerintahan pun menanamkan hal yang sama. Berbagai kota di Indonesia tetap setia dengan tema kelingkungannya sebagai pelengkap diantara tema perekonomian dan keagamaan. Berbagai usaha sebagai simbol terlaksananya visi kota tersebut dalam hal kelingkungan terus digalakkan. Program menanam seribu pohon bertebaran di mana-mana. Seolah manusia lagi ’eling’nya sekarang-sekarang ini. Mereka amat vokal untuk kegiatan pro lingkungan. Syukurlah, bencana alam seperti banjir dan tanah longsor mampu menyadarkan beberapa di antara kita. Ya, wujud kesadaran manusia terhadap alam dihasilkan dari bencana yang terus menyapa masyarakat Indonesia. Manusia sudah tahu dan takut akan kiamat kecil ini. Bahkan mereka takut akan kiamat besar yang sewaktu-waktu akan terjadi. Kata ’takut’ menjadi kunci kesadaran mereka. Tahu tapi tak berbuat. Tahu tapi hanya berkata ataupun menulis. ”Mana akal pikiran dan hati nuranimu wahai manusia??” Itulah kalimat yang kurang lebih bisa melukiskan suasana bumi ini. Walahh ga kebayang deh..
Alam Indonesia terus dikeruk. Dari Sabang sampai Merauke digali abis-abisan. Dari kekayaan yang ada di dalam hingga yang nampak di permukaan bumi. Lubang-lubang bekas pertambangan ditinggalkan begitu saja. Waduhh..Kita tuh mengeksploitasi abiz tanpa mengeksplorasi. Kita memanfaatkan alam dengan orientasi ekonomi banged. Malu dun harusnya..Kita bisanya cuma gitu doank..Dalam memanfaatkan kekayaan bumi ini, kita seharusnya menjalankan tiga prinsip. Prinsip berwawasan lingkungan dan berkelanjutan, prinsip mengurangi, dan prinsip daur ulang. Prinsip berwawasan lingkungan dan berkelanjutan seperti reboisasi, pembuatan sengkedan di tanah miring, menjaga kelestarian Daerah Aliran Sungai, dll. Prinsip mengurangi berarti kita jangan mengambil kekayaan alam ini secara membabi buta. Ambil sedikit sesuai kebutuhan. Keinginan kalau terus diikuti akan menimbulkan penyakit egois. Egois tuh mau menang sendiri dan berarti kita tuh udah serakah. Kalo ada pihak yang serakah berarti otomatis ada pihak yang jadi korbannya. Jangan okehh.. Nah kalo prinsip daur ulang berati kita bisa memanfaatkan barang bekas pakai agar menjadi barang yang memiliki nilai guna lagi. Jadi, kita sebaiknya pintar-pintar melirik barang yang bisa didaur ulang. Dari situ kalo niat kita baik dan kita tekun melakukannya otomatis rejeki ngalir untuk kita.
Selama ini kita tuh nganggep alam sebagai objek. Dari paradigma demikian, otomatis ketanem di otak, kita lah sang penguasanya. (Wah sok banget kita ya..hha). Padahal ditiup angin puting beliung bentar aja udah jatohh. Ahaha. Kita lawan pohon aja masih kalah tuh. Contohnya, kalo ketimpa pohon gede di jalan gitu, manusia bisa langsung meninggal. Itu jadi salah satu bukti kan kita tu ga ada apa-apanya, Sobat! Kita ga berdaya oleh murka alam ini. Belum murka denk, pemanasan aja kita udah ga berdaya. Wah kalo murka serem bangeddd yaa.. Makanya, jangan sampai deh. Mumpung belum murka, ayo kita perbaiki paradigma kita terhadap alam ini! Relasi kita dengan alam adalah subjek-subjek. Tinggalkan paradigma subjek-objek tadi. Jadul pisan euy!
Kita sebagai warga Indonesia kadang suka mencela kekurangan Negeri Indonesia
ini. Tetapi satu hal yang pertama kita banggakan yaitu alam Indonesia. Kelebihan utama yang kini menjadi kekurangan. Kelebihan yang kini menjadi problema besar.
Kelebihan yang kini menjadi bahan olok-olokkan bangsa lain. Kelebihan yang kini menjadi pembicaraan global.
Kelebihan yang kini menjelma menjadi sebuah keprihatinan yang amat mendalam. Kelebihan yang kini menjadi suatu ancaman. Kelebihan yang sewaktu-waktu menjadi malapetaka. Ya, seiring waktu kelebihan tersebut terkikis sudah. Kelebihan yang tereduksi oleh khalifah bumi ini. Kelebihan dimana menjadi realitas yang harus segera diselesaikan demi terjalinnya persahabatan.
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Adalah kewajibannya untuk memimpin kelangsungan hidup di bumi ini. Manusia, hewan, dan tumbuhan merupakan ciptaan-Nya. Manusia dianugerahi hewan dan tumbuhan sebagai teman hidupnya. Manusia dibuahi akal untuk bertindak. Manusialah yang harus memimpin kelangsungan kehidupan di alam ini. Manusialah yang harus mampu mengontrol dengan terampil hubungannya dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain.
Hmmm,, guys sekarang sudah lebih paham kan?? Kita sebagai anak muda nihh kudu bisa berbuat positif untuk negara! Jangan sekadar demo duank dong! Malu ah.. Kalo demo lagi demo lagi ntar bapa-bapa kita di pemerintahan ngiranya kita cuma mau nunjukkin eksistensi komunitas kita lagiii. Huhhh. Cape dehh! So, lebih baik talk less do more! Ahaha. Eh seriusan lho ini.. Sudah saatnya kita tuh berbuat banyak untuk lingkungan sekitar. Mulai dari hal terkecil ajaa. Pastinya sudah sering dengar kan sebaiknya ngapain aja?! Dari buang sampah pada tempatnya hingga aktif dalam kegiatan bertemakan lingkungan. Kita sebagai orang berpendidikan harus menunjukkan perbedaan antara orang terdidik dan ga terdidik dong tentunya………Orang berpendidikan seharusnya berprilaku lebih baik daripada mereka yang tak sempat mengeyam pendidikan tinggi. Eh tapi jangan salah lho, kita masih kalah sadarnya sama mereka yang berpendidikan rendah tetapi berpikir dan bertindak lebih menghargai alam.
Masa kita yang SMA kalah sama mereka yang tamatan SD tapi menjadi orang berbahagia karena cinta lingkungan?? Pernah liat ga seorang pembalak liar yang kini sudah tobat menjadi pecinta lingkungan? Belajarlah dari pengalamannya. Dia saja amat menyesali perbuatannya. Tetapi kini, dia menjadi sahabat bumi. Wajahnya pun berseri-seri sebagai cerminan bahwa dia bahagia bisa bersahabat dengan bumi.
Ya, gw harap kita lebih mengerti sekarang. Gw berharap banged, kita berani berbuat sekarang. Yo ah kompakk, guys!!! Sudah terlalu lama kita terlena. Sudah terlalu lama bumi menangis. Sudah saatnya masa remaja diisi dengan hal-hal positif. Sudah saatnya motivasi untuk berbuat berkobar dalam jiwa. Bertahun-tahun hanya kartu ucapan selamat tahun baru yang terbuang sia-sia. Bertahun-tahun hanya kata-kata bahagia lewat sms yang menyapa. Mana sapaan tahun baru kita untuk bumi?? Mana ucapan tahun baru untuk alam ini?? Ya, alam ini menanti ucapan tahun baru dari kita. Bumi menanti tahun barunya. Ucapan tahun baru yang dimaknai bumi sebagai ucapan dan tindakan manusia yang berubah menjadi lebih menghargai alam. Ucapan terima kasih dan penyesalannya terhadap bumi yang diiringi dengan perubahan dalam menjalin relasi.

